Sunday, August 16, 2009

profil muslimah (2) : Ummu Ruman

Ummu Ruman

Profil Muslimah - Friday, 29 December 2006

Kafemuslimah.com

Nama lengkapnya Ummu Ruman Binti Amir bin Uwaimir bin Abdusyams bin Iqab hingga bermuara pada Kinanah. Nama aslinya adalah Zainab atau Da’d. Namun, ia lebih populer dengan panggilan Ummu Ruman.

Ia tumbuh besar dan hidup di kawasan yang disebut As-Surrah, sebuah kawasan berbukit di jazirah Arab.

Begitu memasuki usia baligh, ia langsung dinikahi oleh Harits bin Sakhbarah bin Jurtsumah Al-Khair, salah seorang pemuda sekampungnya. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka berinama Ath-Thufail.

Bersama suami dan anaknya, ia hijrah ke Mekah dan tinggal di sana dengan perlindungan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Setahun setelah tinggal di Mekah, suaminya meninggal dunia. Abu Bakar akhirnya menikahinya untuk melindungi ia dan anaknya.

Sosok Ibu Pengasuh
Dari istri sebelumnya, Abu Bakar dikaruniai dua orang anak, Asma dan Abdullah. Sementara itu, dengan Ummu Ruman, ia dikaruniai Aisyah dan Abdurrahman. Antara Asma dan Aisyah hanya terpaut sepuluh tahun.

Ummu Ruman mendekap dan mengasuh keempat anak-anak Abu Bakar, di samping anak hasil perkawinannya dengan Harits, Ath-Thufail, dengan penuh kasih sayang, seolah-olah mereka adalah anaknya sendiri.

Masuk Islam
Ia langsung menyatakan masuk Islam setelah keislaman suaminya, Abu Bakar. Ia termasuk kelompok pertama yang masuk Islam. Semua anak-anaknya pun mengikuti jejak orang tua mereka dan masuk Islam, kecuali Abdurrahman yang masuk Islam belakangan. Rumahnya pun menjadi rumah kedua dalam Islam setelah rumah Rasulullah SAW.

Ath-Thufail, anak hasil perkawinan pertamanya dengan Al Harits, juga msuk Islam dini dan ia pernah meriwayatkan hadits dari Aisyah r.a. Diriwayatkan dari Ath-Thufail bin Al-Harits, saudara seibu Aisyah dari Ummu Ruman, bahwasanya Aisyah pernah bercerita kepadanya bahwa Abdullah bin Az-Zubair pernah berkomentar atas jual beli atau pemberian yang diberikan Aisyah kepadanya, “Demi Allah, sungguh Aisyah harus mengakhirinya atau akan kularang ia membelanjakan harta.” (Ketika dilapori demikian) Aisyah berkata, “Ia berkata demikian?” Orang-orang menjawab, “Ya.” Ia pun menukas, “Demi Allah, aku bernazar tidak akan pernah berbicara sepatah kata pun dengan Ibnu Az-Zubair selama-lamanya.” (Mendengar nazar Aisyah ini) Abdullah bin Az-Zubair meminta tolong pada Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Al-Aswad bin Abd Yaghuts agar membujuk Aisyah untuk membatalkan nazarnya. Mereka berdua lantas meminta izin bertemu Aisyah dan ia mengizinkan keduanya. Keduanya lantas berbicara dengannya dan membujuknya untuk mengingat Allah, unsur kekerabatannya dengan Ibnu Az-Zubair, dan sabda Rasulullah SAW (Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya sesama muslim diatas tiga hari). Ia pun akhirnya memaafkan Ibnu Az-Zubair.

Ummu Ruman turut menanggung selakna cobaan yang dialami kaum muslimin di Mekah. Ia tampil menjadi penyokong terbaik suaminya, Abu Bakar, yang termasuk orang yang paling banyak dapat siksaan dan tekanan.

Istri Yang Disiplin
Ummu Ruman memiliki cara berpikir yang bijak dan disiplin. Saat Khulah binti Hakim, istri ‘Utsman bin Mazh’un, datang menemuinya dan berkata (penuh ketakjuban), “Hai Ummu Ruman, apa gerangan kebajikan dan kebarakahan yang dianugerahkan Allah SWT kepada kalian ini?” Ia menukas, “Apa itu?” Khulah binti Hakim lantas menjelaskan, “Rasulullah SAW mengutusku untuk meminang Aisyah untuk beliau.” (Bukannya langsung menjawab ya) Ummu Ruman malah menjawab, “Tunggulah Abu Bakar sampai ia datang (biar dia yang memutuskan).”

Ia begitu menghargai suami sembari menjelaskan keterpujian sifatnya. Ketika mengutarakan masalah pinangan Nabi SAW tersebut pada Abu Bakar, ia langsung berseru kepadanya, “Tunggu aku!” Ia lantas bergegas keluar.

Ummu Ruman pun lantas menjelaskan duduk perkaranya pada Khulah, “Math’am bin Uday telah menyunting Aisyah untuk anak laki-lakinya. Demi Allah, Abu Bakar tidak pernah berjanji apa pun kemudian ia langgar sendiri.”

Abu Bakar ternyata pergi menemui Math’am bin Uday yang mengurungkan pinangannya pada Aisyah karena takut anaknya bakal terseret masuk Islam. Abu Bakar pun pulang dan berkata pada Khulah, “Undanglah Rasulullah SAW kemari!”. Khulah pun mengundang beliau. Selanjutnya Abu Bakar segera menikahkan beliau dengan putrinya, Aisyah, yang kala itu masih berusia enam tahun.

Mukminah Penyabar
Ketika Nabi SAW memutuskan hijrah dan menunjuk Abu Bakar sebagai pendampingnya, Abu Bakar pulang menemui Ummu Ruman dan memberitahunya. Dipamiti demikian, Ummu Ruman sama sekali tidak gentar meski harus menghadapi bahaya sendirian di Mekah bersama putra-putrinya. Ia malah berkata, “Sebab beliau juga meninggalkan anak-anak dan berhijrah.”

Selama ketiadaan suaminya, ia praktis menjalankan fungsi kepala rumah tangga secara penuh hingga akhirnya pergi berhijrah bersama keluarganya semua, didampingi putra-putri Nabi SAW. : Fatimah dan Ummu Kultsum, juga istri Nabi SAW. (Saudah), dengan dikawal oleh Zaid bin Haritsah, Abu Rafi (budak pembantu Rasulullah SAW), dan Abdullah bin Uraiqizh yang diutus khusus oleh Nabi SAW untuk memboyong mereka, ditambah lagi dengan keikutsertaan Thalhah bin Ubaidillah. Jadilah rombongan itu laiknya rombongan cahaya.

Menjadi Ibu Mertua Nabi SAW
Sesampai di Madinah, Ummu Ruman berbincang dengan Abu Bakar r.a., “Abu Bakar, tidakkah sebaiknya engkau ingatkan Rasulullah SAW mengenai status Aisyah?” Abu Bakar segera menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Tidakkah Anda ingin membangun keluarga, wahai Rasulullah SAW?”

Perkawinan pun dilangsungkan. Aisyah r.a. bercerita, “Rasulullah SAW menikahiku saat aku berusia enam tahun. Kami datang ke Madinah dan menginap di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Di sana, aku terpatuk (ular berbisa) hingga rambutku rontok berguguran. Tiba-tiba, ibuku, Ummu Ruman, datang menghampiriku selagi aku masih asyik bermain ayunan bersama kawan-kawan sepermainanku. Ia berteriak memanggilku. Aku tergopoh-gopoh menghampirinya dan tidak tahu apa gerangan yang diinginkannya dariku. Ia raih tanganku samapi akhirnya ia hentikan aku di pintu rumah. Napasku tersengal-sengal (karena terus diseret ibu) hingga akhirnya pernapasanku kembali tenang. Ia lalu ambil sedikit air, lalu ia usap-usapkan ke wajah dan ke kepalaku. Kemudian, ia masukkan aku ke rumah. Di sana, sudah ada beberapa perempuan Anshar. Mereka berseru, “Semoga senantiasa kebaikan dan keberkahan melimpahimu.” Ia serahkan aku pada mereka. Secepat kilat, mereka dandani penampilanku. Aku belum betul-betul sadar akan apa yang terjadi, kecuali setelah Rasulullah SAW datang pagi-pagi. Ibu lantas menyerahkanku kepada beliau. Usiaku kala itu baru sembilan tahun.”

Tegar Menghadapi Badai Cobaan
Pada tahun keenam hijriah, tepatnya setelah Perang Bani Al-Mushthaliq, terjadillah fitnah ifk yang sengaja dipicu oleh orang-orang munafik untuk menjatuhkan kehormatan putri Ummu Ruman, Aisyah.

Nabi SAW pun sempat termakan isu itu dan memperlakukan Aisyah tidak seperti biasanya. Karena jatuh sakit memikirkan isu itu, Aisyah pun pamit pulang ke rumah orang tuanya agar bisa dirawat ibunya. Ummu Ruman sebenarnya sudah mengetahui isu yang beredar. Namun, ia sengaja menyembunyikan dari putrinya.

Diriwayatkan dari Masruq bin Al-Ajda, tuturnya bahwa Ummu Ruman, ibunda Aisyah r.a. bercerita kepadaku sebagai berikut.

Ketika aku dan Aisyah asyik-asyik duduk, tiba-tiba seorang perempuan Anshar datang seraya berseru, “Semoga Allah mengerjai fulan!”. Ummu Ruman bertanya, “Ada apa?”. Ia menjawab, “Anakku termasuk orang yang menceritakan berita itu.”. Ia bertanya lagi, “Berita apa?”. Ia jawab begini, begini. Perempuan itu lantas bercerita isu yang beredar di Madinah mengenai affair Aisyah.

Aisyah pun bertanya, “Rasulullah SAW sudah mendengar hal itu?”. Ia bilang, “Sudah”. Ia tanya lagi, “Abu Bakar?”. Ia jawab, “Sudah”. Ia pun langsung terjatuh pingsan. Saat tersadar, ia langsung terserang demam. Aku lemparkan bajunya padanya lalu menyelimutkannya.

Nabi SAW kemudian datang dan bertanya, “Ada apa gerangan dengannya?”. Aku jawab, “Ia terserang demam hebat”. Beliau menukas, “Mungkinkah ini karena isu yang sedang ramai diperbincangkan (menjadi buah bibir).”. Aku jawab, “Ya”. Aisyah duduk dan berkata, “Demi Allah, sungguh jika aku bersumpah sekalipun mereka tetap tidak mempercayaiku. Dan jika aku bilang tidak, kalian tetap tidak akan menerima alasanku. Aku dan kalian seperti Yaqub dan anak-anaknya (yang membawa berita palsu kematian Yusuf yang sengaja mereka buang). ‘Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ “(Q.S. Yusuf, 12:18)

Nabi SAW pun pamit pergi tanpa berkata sepatah kata pun. Allah akhirnya menurunkan kesuciannya (Dari isu tersebut). Aisyah pun berkata, “Dengan segala puji Allah, bukan puji siapa pun, bukan pula pujimu (Rasulullah SAW).”

Diriwayatkan dari Aisyah, kisahnya, “Begitu tersiar berita miring mengenai diriku yang tidak pernah aku ketahui dan aku lakukan sedikit pun, aku memutuskan untuk pulang ke rumahku seolah-olah apa yang aku alami sekarang ini belum pernah aku rasakan, banyak maupun sedikitnya. Aku benar-benar tersengat. Aku bilang pada Rasulullah SAW., ‘Pulangkan aku ke rumah ayahku.’. Beliau pun mengutus seorang pengawal untuk menghantarkanku.”

Saat masuk rumah, aku dapati Ummu Ruman dibawah, sedang Abu Bakar di lantai atas rumah, membaca (Al-Quran). Ibuku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu datang begini, Putriku?”. Aku beritahu ia dan aku ceritakan kepadanya isu tentang diriku. Ia ternyata tidak mengalami seperti apa yang aku alami (pingsan dan jatuh sakit begitu mendengar berita miring tersebut). Ia berkata, “Putriku, tenanglah sedikit dalam menghadapi masalahmu ini. Demi Allah, sungguh tidak ada seorang pun perempuan berparas cantik lalu disukai oleh suaminya dan ia memiliki beberapa madu (poligami) kecuali mereka akan mendengkinya dan membuat desas-desus miring tentang dirinya.”. Ternyata, apa yang aku alami tidak sampai ia alami. Aku tanya,”Apakah Ayah sudah mengetahuinya?”. Ia jawab, “Sudah”. Aku tanya lagi, “Rasulullah SAW?”. Ia jawab, “Rasulullah SAW juga sudah tahu”.

Aku spontan menangis dan bercucuran air mata. Ketika mendengar suara tangisku, Abu Bakar yang sedari tadi membaca Al-Quran di lantai atas rumah segera turun dan berkata, “Oh, Ibu, apa gerangan yang terjadi padanya?”. Ummu Ruman menjawab, “ Begitu mendengar isu miring yang menyangkut dirinya, air matanya langsung mengalir deras.”. Abu Bakar berseru, “Sumpah atas dirimu, hai Putriku. Pulanglah ke rumahmu (rumah Rasulullah SAW)!”

Aku pun pulang diantar bapak dan ibuku. Mereka tetap menemaniku sampai akhirnya Rasulullah SAW masuk menemuiku setelah menunaikan shalat Ashar. Beliau masuk rumah, sedangkan aku diapit bapak dan ibuku di sebelah kanan dan kiriku. Beliau bertahmid memuji Allah dan memuja-Nya, lalu beliau berbicara. Aku toleh ayahku dan aku bilang kepadanya, “Jawablah beliau.”. Ia hanya menukas, “Apa yang mesti aku katakan.”. Aku toleh ibuku dan aku bilang kepadanya, “Jawablah beliau.”. Ia juga balik menukas, “Aoa yang musti aku katakan.”

Karena keduanya tidak mau menjawab, (mewakili diriku) aku pun lantas bertasyahud, lalu memuji dan memuja Allah dengan pujian ala kadarnya, kamudian aku katakan, “Amma ba’d, demi Allah, sungguh jika aku katakan pada kalian bahwa aku benar-benar tidak melakukannya dan Allah SWT menjadi saksi bahwa aku sungguh-sungguh berkata benar, hal itu tidak akan bermanfaat bagiku di hadapan kalian sebab kalian telah terlanjur membicarakannya dan hati kalian pun termakan olehnya. Jika aku katakan aku telah melakukannya dan Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melakukannya, pasti akan kalian bilang, ‘Ia telah mencelakakan dirinya sendiri.’. Demi Allah, aku tidak menemukan pemisalan yang tepat bagiku dan bagi kalian dalam situasi ini kecuali apa yang terjadi pada ayahanda Nabi Yusuf (aku berusaha melafalkan nama Yaqub, tetapi aku tidak kuasa melafalkannya) tatkala mengatakan, ‘(Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu) maka hanya bersabar itulah yang terbaik. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ (Q.S. Yusuf, 12:18).”

Ketika itulah turun wahyu pada Rasulullah SAW. Kami pun terdiam. Sejurus kemudian beliaumengangkat wajah. Bisa aku lihat dengan jelas bias keceriaan di wajah beliau saat beliau mengusap keningnya dan berkata, “Kabar gembira, hai Aisyah. Allah telah menurunkan wahyu pembebasanmu.”. Aku belum mampu melepaskan kemarahanku. Ketika bapak ibuku menyuruhku, “Berdiri dan sambutlah beliau.”. Aku sahut, “Tidak, Demi Allah aku tidak akan berdiri menyambutnya, juga tidak akan berterima kasih kepadanya, ataupun kepada kalian. Akan tetapi aku hanya memuji dan berterima kasih kepada Allah yang telah menyatakan kebebasanku. Sementara itu, telah kalian dengar isu ini, tetapi sedikit pun kalian tidak mengingkarinya ataupun mengubahnya.”” (H.R. Al-Bukhari)

Statusnya di Mata Rasulullah SAW
Ia memiliki status terhormat di mata Rasulullah SAW. Rasulullah SAW begitu menghormati pendapatnya, menghargainya, dan acap menanti-nantikannya. Rasulullah SAW juga selalu meminta pendapatnya mengenai masalah rumah tangga yang terjadi antara beliau dan Aisyah. Beliau pun sering meminta Aisyah untuk berkonsultasi kepadanya.

Tatkala turun ayat takhyiir (yang memaparkan dua opsi, yaitu tetap bersama Rasulullah SAW atau bercerai), beliau mengawalinya dari Aisyah. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku tawarkan satu keputusan kepadamu. Namun, jangan ambil keputusan sedikitpun terlebih dahulu sampai engkau kemukakan hal itu kepaa bapak ibumu, Abu Bakar dan Ummu Ruman.”. Ia menyahut, “Memangnya apa itu, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab, “Allah SWT berfirman, ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian mengehndaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik diantaramu.’ (Q.S. Al-Ahzab, 33:28-29)”

Ia menukas, “Sungguh aku hanya menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan rumah akhirat. Aku tidak akan mengonsultasikan masalah itu pada bapak dan ibuku, Abu Bakar dan Ummu Ruman.”. Rasulullah SAW pun hanya tertawa. Beliau kemudian pindah ke kamar istri-istri beliau yang lain sambil mengatakan, “Aisyah bilang begini, begini.”. Mereka pun menjawab sebagaimana jawaban yang diberikan Aisyah. (H.R. Ahmad).

Wafat
Ummu Ruman r.a. wafat pada tahun keenam hijriah, setelah mengalami sakit singkat.

Rasulullah SAW turun ke kuburnya dan mendoakannya, kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang ingin melihat bidadari (surga) maka hendaklah ia melihat Ummu Ruman.”.

No comments:

Post a Comment